BAB III
LANDASAN TEORI
3.1 Pengenalan sistem AMR
Automatic Meter Reading (AMR) adalah solusi pengumpulan data
secara elektronik. AMR akan mencatat dan mengirimkan seluruh transaksi yang
terjadi secara cepat melalui jaringan telekomunikasi (GPRS/SMS) ke pusat data
perusahaan. AMR dapat diaplikasikan pada pencatatan meteran listrik, air, gas,
dan bidang lainnya. AMR dikembangkan sebagai bagian dari pengembangan Meter
Elektronik (Meter Digital), yang menggantikan Meter Elektromekanik. Sistem AMR
(Automatic Meter Reading) merupakan sistem pengambilan data tersentralisasi,
dimana data regular yang berupa : Energy (kWh & kVArh) , Max Demand
(VA), Load Profile (kW, kVAr, dan kVA) secara
periodik dibaca dari setiap Meter dan dikumpulkan di Master AMR untuk keperluan
billing dan juga untuk analisa profil customer dalam kerangka antisipasi
kebutuhan daya. Sejalan dengan perkembangan teknologi dalam 3 – 5 tahun
terkahir ini, Meter Elektronik yang digunakan pada sistem Billing telah
dilengkapi dengan fungsi/fitur Power Quality serta data real-time, dan didukung
dengan ketersediaan Protokol yang memungkinkan pengiriman data-data tersebut
secara transparan.
3.1.1 Konsep AMR
Pada umumnya sistem AMR dengan
konsep basic ini masih mengikuti pola system AMR yang dikembangkan sejak awal,
yakni dengan menggunakan sistem komunikasi dial-up satu arah (dial-up dari
Master ke setiap Remote/Meter) secara periodic sekali sehari. Perkembangan
dalam 5 – 10 tahun terkahir ini hanyalah pada penggunaan infrastruktur GSM
dial-up, disamping standar PSTN dial-up. Protokol yang umum digunakan pada pola
basic ini kebanyakan menggunakan Protokol AMR (yang mempunyai standar security
/ login encryption algorithm), seperti :
IEC 62056-21 (formerly IEC 61107 / FLAG), IEC 62056-31 (EURIDIS), dan proprietary pabrikan, Protokol SCADA (seperti
Modbus dan DNP3) tidak umum digunakan (tetapi tetap ada beberapa sistem AMR
yang menggunakan Protokol ini), utamanya pada Meter yang ditempatkan di lokasi
Pelanggan (Billing Meter).
3.1.2 Komunikasi sistem AMR
Sistem komunikasi yang
digunakan untuk komunikasi master AMR dengan meter yang umum dipakai adalah :
3.1.2.1
GSM Data Packet (GPRS – 3G)
3.1.2.2
LAN (Cable – Wireless)
3.1.2.3
Dial-Up (PSTN – GSM)
3.1.2.4
Power Line Carrier (PLC)
3.1.2.5
Radio Data (Transparent / Packet Data / Trunking)
3.1.3 Master AMR
Master AMR dapat terdiri dari standalone PC, atau
berarsitektur Clients-Server, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah
koneksi Meter. Perangkat komunikasi yang terhubung ke Master AMR akan mengikuti
model komunikasi yang diaplikasikan, apakah berupa beberapa Dial-Up Modem,
Router ke WAN (Intranet/Internet), Radio, dll. Software AMR mempunyai fungsi
utama untuk menyimpan data-data yang dibaca dari Meter ke dalam format/table
database, untuk digunakan oleh aplikasi lainnya (Energy Process Information).
Beberapa software AMR juga telah menyediakan fungsi partial Energy Process
Information.
3.1.4 Media Komunikasi
Media / Saluran Komunikasi, dipakai
untuk menghubungkan antara komputer dengan meter elektronik, dapat berupa
telepon PSTN dan/atau GSM. Namun saat Ini jaringan PSTN sudah tidak digunakan.
Sedangkan untuk Interface komunikasi yang paling umum tersedia di Meter
Elektronik, dan juga pada IED (Intelligent Electronic Device) lainnya, adalah
interface Serial (RS-485 / RS-232). Beberapa Meter dan IED untuk saat ini telah
mendukung interface Ethernet, disamping tetap menyediakan interface Serial.
Beberapa Meter/IED juga menyedaiakn interface USB, tetapi umumnya hanya
digunakan sebagai port untuk konfigurasi
3.1
Gambar Serial RS-232 USB Adapter
Fungsi
dari serial port RS232 adalah untuk menghubungkan / koneksi dari perangkat yang
satu dengan perangkat yang lain, atau peralatan standart yang menyangkut
komunikasi data antara komputer dengan alatalat pelengkap komputer. Perangkat
lainnya itu seperti modem, mouse, cash register dan lain sebagainya. Serial
port RS232 pada konektor DB9 memiliki pin 9 buah dan pada konektor DB25
memiliki pin 25 buah.
3.2 Serial Port RS-232
Konektor DB9
3.1.5 GSM (Global System for Mobile Communication)
Global System for Mobile Communication disingkat GSM adalah sebuah teknologi komunikasi seluler yang bersifat digital. Teknologi GSM banyak diterapkan pada mobile communication, khususya telepon genggam. Teknologi ini memanfaatkan gelombang mikro dan pengiriman sinyal yang dibagi berdasarkan waktu, sehingga sinyal informasi yang dikirim akan sampai pada tujuan. GSM dijadikan standar global untuk komunikasi selular sekaligus sebagai teknologi selular yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. GSM mampu menyalurkan komunikasi suara dan data berkecepatan rendah (9,6-14,4 kbps).
Global System for Mobile Communication disingkat GSM adalah sebuah teknologi komunikasi seluler yang bersifat digital. Teknologi GSM banyak diterapkan pada mobile communication, khususya telepon genggam. Teknologi ini memanfaatkan gelombang mikro dan pengiriman sinyal yang dibagi berdasarkan waktu, sehingga sinyal informasi yang dikirim akan sampai pada tujuan. GSM dijadikan standar global untuk komunikasi selular sekaligus sebagai teknologi selular yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. GSM mampu menyalurkan komunikasi suara dan data berkecepatan rendah (9,6-14,4 kbps).
3.3 Infrastruktur
Jaringan GSM
3.1.6 GPRS (General Packet radio
Service)
GPRS adalah suatu teknologi yang memungkinkan
pengiriman dan penerimaan data lebih cepat jika dibandingkan dengan penggunaan teknologi
Circuit Switch Data atau CSD. Sering disebut pula dengan teknologi 2,5G Sistem
GPRS dapat digunakan untuk transfer data (dalam bentuk paket data) yang
berkaitan dengan email, data gambar (MMS), dan penelusuran (browsing) internet. Layanan
GPRS dipasang pada jenis ponsel tipe GSM dan IS-136, walaupun
jaringan GPRS saat ini terpisah dari GSM
3.4 Struktur Jaringan GPRS
3.5 Gambar Dialler GPRS
3.1.7 SNMP
Simple Network Management Protocol (SNMP)
adalah sebuah protokol yang dirancang untuk memberikan kemampuan kepada
pengguna untuk memonitor dan mengatur suatu jaringan komputer dari jarak jauh
(secara
remote) atau dalam satu pusat
kontrol saja. Dengan menggunakan protokol ini bisa didapatkan informasi tentang
status dan keadaan dari suatu jaringan. Protokol ini menggunakan transport UDP
pada port 161. Pengolahan ini dijalankan dengan mengumpulkan data dan melakukan
penetapan terhadap variabel-variabel dalam elemen jaringan yang dikelola [6]. Dalam
aplikasinya, Elemen SNMP terdiri dari tiga bagian, yaitu manager, agent, dan
MIB [7]. Manager merupakan software yang berjalan di sebuah host di jaringan,
yang merupakan suatu proses atau lebih yang berkomunikasi dengan agent dalam
jaringan. Agent merupakan perangkat lunak yang dijalankan disetiap elemen jaringan
yang dikelola. Agent terdapat pada, workstation, repeater, router, switch, dan
personal computer, bertugas untuk merespon dan memberikan informasi sesuai permintaan
manager SNMP. Manager Information Base (MIB) merupakan struktur database
variabel dari elemen jaringan yang dikelola [8]. Pendefinisian MIB dalam SNMP menggunakan
diagram pohon, dan menempatkan setiap Object Identifier (OID) pada suatu lokasi
unik pada pohon
3.1.8 Availability
Availability system atau ketersediaan sistem
adalah
keadaan dimana suatu sistem, subsistem, atau peralatan
dalam keadaan beroperasi atau dalam kondisi berfungsi.
Ketersediaan sistem biasanya diukur sebagai faktor
kehandalan atau reability. Ketersediaan dapat mengacu pada kemampuan dari sistem atau perangkat untuk memberikan layanan pada user, secara sederhana dapat diartikan sistem atau perangkat tersebut sedang hidup. Periode ketika sistem atau perangkat dalam kondisi hidup disebut dengan uptime dan untuk kondisi sebaliknya disebut downtime. Downtime dapat diartikan sebagai mean time to restore (MTTR) waktu yang diperlukan untuk mengembalikan pada kondisi semula sebelum terjadi gangguan, meliputi diagnosa, perbaikan, dan pemulihan. Uptime disebut juga mean time between failures (MTBF), periode saat kondisi normal sampai terjadi gangguan berikutnya. Nilai ketersediaan dapat dihitung dan secara spesifik dinyatakan dalam decimal, misalnya 0,9998 atau dalam persen, 99,998 %
keadaan dimana suatu sistem, subsistem, atau peralatan
dalam keadaan beroperasi atau dalam kondisi berfungsi.
Ketersediaan sistem biasanya diukur sebagai faktor
kehandalan atau reability. Ketersediaan dapat mengacu pada kemampuan dari sistem atau perangkat untuk memberikan layanan pada user, secara sederhana dapat diartikan sistem atau perangkat tersebut sedang hidup. Periode ketika sistem atau perangkat dalam kondisi hidup disebut dengan uptime dan untuk kondisi sebaliknya disebut downtime. Downtime dapat diartikan sebagai mean time to restore (MTTR) waktu yang diperlukan untuk mengembalikan pada kondisi semula sebelum terjadi gangguan, meliputi diagnosa, perbaikan, dan pemulihan. Uptime disebut juga mean time between failures (MTBF), periode saat kondisi normal sampai terjadi gangguan berikutnya. Nilai ketersediaan dapat dihitung dan secara spesifik dinyatakan dalam decimal, misalnya 0,9998 atau dalam persen, 99,998 %
3.1.9 Download Data Meter
Download data meter elektronik
adalah kegiatan untuk melihat / mengambil data-data yang terekam dalam memory
meter elektronik untuk dievaluasi apakah pengukuran energi di pelanggan terukur
normal secara continue atau dalam waktu-waktu tertentu energi yang digunakan
pelanggan tidak terukur secara normal (abnormal). Download data secara
periodikAnomali dalam pengukuran energi biasa terjadi karena adanya: a.
Gangguan peralatan / perlengkapan pengukuran di dalam gardu b. Gangguan
peralatan / perlengkapan pengukuran di dalam box / APP c. Gangguan sistem d.
Tempering atau indikasi pelanggaran lainnya e. Harmonisa, dan lain-lain. Disamping
hal-hal tersebut diatas, download data meter juga dapat digunakan untuk
mengetahui kurva / grafik pemakaian energi / beban di pelanggan yang
bersangkutan. Download data meter dapat dilaksanakan secara remote atau
automatic dari ruang kontrol AMR apabila meter elektronik yang terpasang di
pelanggan sudah dilengkapi dengan sarana komunikasi / modem (PSTN ataupun GSM).
Apabila meter elektronik yang terpasang belum dilengkapi dengan sarana komunikasi
data (modem) atau modem yang sudah terpasang sedang mengalami gangguan maka
pengambilan data pada memory meter dilaksanakan secara lokal / direct connected
(petugas datang ke lokasi) dengan membawa laptop / notebook (lengkap dengan
software meter yang terpasang) melalui optical probe / otocoupler, dan
menyimpannya dalam soft copy atau hard copy untuk di evaluasi lebih lanjut.
Salah satu tampilan dari download data di software AMETYS yaitu :
3.6 Gambar Download Data
Meter
3.1.10 Kelebihan Automatic Meter Reading (AMR)
Dengan dipasangnya AMR pada
pelanggan, maka pemakaian kWh oleh pelanggan dapat dipantau / dibaca setiap
saat dari kantor PLN dengan hasil yang lebih akurat. Dengan bantuan aplikasi komputer
sehingga kesalahan baca yang dilakukan oleh petugas tidak akan terjadi dan
kepercayaan pelanggan kepada PLN dapat tetap terjaga. Keuntungan lain yang
dapat diperoleh dari penggunaan sistem AMR ini adalah :
1.
Pencatatan
meter lebih akurat
2.
Proses
penerbitan rekening lebih cepat
3.
Penggunaan
energi listrik dapat terpantau
4.
Upaya
peningkatan mutu pelayanan melalui data langsung penggunaan energi
5.
Listrik
yang dikonsumsi oleh pelanggan yang bersangkutan
3.1.11 Kelemahan Automatic Meter Reading
(AMR)
Aplikasi teknologi AMR saat ini
masih berbasis GSM dan PSTN dengan cara “konvensional”, melakukan panggilan
kepada modem seperti panggilan kepada kartu telepon biasa. Hal ini tentunya
akan membuat waktu pemanggilan menjadi tidak efektif karena hanya satu modem
yang dapat dipanggil dalam satu waktu. Beberapa kendala dalam teknologi PSTN
maupun GSM “konvensional”, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Pada teknologi PSTN :
a.
Keterbatasan
pada teknologi PSTN saat ini adalah kurangnya fleksibilitas dalam penyesuaian dengan
lokasi instalasi. Teknologi PSTN cenderung kepada jaringan berkabel, dimana
letak geografis dari suatu meter akan mempengaruhi efektifitas pemasangan
kabel.
2.
Pada
teknologi GSM :
a.
Banyaknya
kasus modem tidak merespon (modem hang) yang disebabkan memori SMS pada modem
penuh ataupun modem kurang handal daya tahannya.
b.
Setiap
modem dalam jaringan GSM “konvensional” dapat dipanggil oleh siapa saja,
sehingga keamanan data yang terekam kurang terjamin.
c.
Model
koneksi point-to-point pada GSM menjadikannya tidak efektif saat harus terjadi
pemanggilan meter dalam jumlah yang besar
d.
Biaya komunikasi pada GSM dihitung berdasarkan waktu. Jika
terjadi pemanggilan lintas operator telekomunikasi maka biaya yang dikeluarkan
akan sangat mahal.
3.2 Pengenalan Smart Modem
Modem yang digunakan di PT. PLN
(Persero) APP Semarang ini adalah modem GSM/GPRS EWM 100 merk EDMI yang dipakai
sebagai penghubung antara saluran komunikasi dengan meter elektronik /
komputer. Selain mempunyai tipe yang berbeda-beda sesuai dengan saluran komunikasinya, dalam pemasangannya juga bersifat internal atau eksternal. Modem dengan sifat internal ini menyatu dengan meter, menggunakan sumber tegangan dari meter, dan sumber gangguan berkurang. Sedangkan modem dengan sifat eksternal, letaknya terpisah dan sumber tegangan dari luar. Sebelum dipakai, modem GSM/GPRS ini terlebih dahulu disambungkan ke bagian
antena, ke bagian adaptor / teg DC, dan ke bagian kabel data / meter. Setelah semuanya tersambung maka lampu LED akan berkedip untuk
mengindikasikan bahwa modem tersebut aktif dan bisa digunakan.
komputer. Selain mempunyai tipe yang berbeda-beda sesuai dengan saluran komunikasinya, dalam pemasangannya juga bersifat internal atau eksternal. Modem dengan sifat internal ini menyatu dengan meter, menggunakan sumber tegangan dari meter, dan sumber gangguan berkurang. Sedangkan modem dengan sifat eksternal, letaknya terpisah dan sumber tegangan dari luar. Sebelum dipakai, modem GSM/GPRS ini terlebih dahulu disambungkan ke bagian
antena, ke bagian adaptor / teg DC, dan ke bagian kabel data / meter. Setelah semuanya tersambung maka lampu LED akan berkedip untuk
mengindikasikan bahwa modem tersebut aktif dan bisa digunakan.
3.7
Gambar Smart Modem
3.3 Pengenalan Aplikasi IPSwitch Whatsup
Gold
Ipswitch WhatsUp Gold adalah software manajemen
jaringan. Dibangun di arsitektur yang berskala dan ekstensibel, WhatsUp Gold
menawarkan pencarian perangkat serta pemetaan jaringan secara otomatis,
pemonitoran SNMP dan WMI secara real-time, dan fungsi pensignalan, notifikasi,
dan pelaporan yang serbaguna, WhatsUp Gold mengantarkan visibilitas, kepintaran
serta kontrol penuh 360°. WhatsUp Gold mengukur dari bisnis kecil hingga
perusahaan besar, dan fungsi fungsinya dapat dengan mudah diperluas dengan
modul plug-in, sehingga dapat tumbuh dan berkembang bersama anda seiring dengan
peningkatan jaringan anda dalam segi ukuran maupun kompleksitas.
WhatsUp Gold adalah manajemen jaringan yang
dirancang untuk memonitor jaringan intra/inter-Net dalam skala organisasi kecil
dan menengah (SMB) dan membantu meningkatkan pengambilan keputusan dalam
pertumbuhan yang stabil dari jaringan tersebut dimasa yang akan datang. Dengan
WhatsUp Gold, administrator jaringan dapat mengelola infrastruktur jaringan
24x7 jam serta memiliki visibilitas dan kontrol yang diperlukan untuk memenuhi
keperluan organisasi kerja.
3.3.1 Instalasi Whats Up
Gold
Kebutuhan Sistem Komputer WhatsUp
Gold memerlukan perihal dibawah ini:
1.
Sekelas dengan Intel Pentium atau padanannya
2.
Space Hardisk 30 MB (Disarankan 100 MB)
3.
Memory 64 MB (Disarankan 256 MB)
4.
Windows NT 4.0 (SP6A atau yang terbaru), Windows 2000 (SP2
atau yang terbaru), Windows 98, Windows ME, atau Windows XP
5.
Sebuah protokol TCP/IP.
6.
Jika akan menggunakan beeper, pager, SMS, atau pemberitahuan
berupa voice, dibutuhkan sebuah modem lokal dan line telepon. (WhatsUp Gold
tidak mendukung modem pooling)
7.
Untuk scan dan poll IPX device, harus menginstal Microsoft’s
NWLink IPX/SPX dan menjalankan console WhatsUp Gold. Penambahan protokol ini di
Control Panel. Jika menggunakan Windows NT, pada dialog Select Network
Protocol, pilih Microsoft, lalu pilih IPX/SPX-compatible Protocol dan ikuti
instruksi-instruksi nya.
Gambar
3.8 Aplikasi Whatsup Gold
3.3.2 Keuntungan
Penggunaan Aplikasi Monitoring Jaringan
1.
Mengetahui
apa yang sedang terjadi dalam jaringan,
dimana solusi Network Monitoring System selalu memberikan informasi tentang
operasional dan konektifitas dari peralatan dan sumber daya yang ada dalam
jaringan
2.
Untuk
perencanaan peningkatan (upgrade) dan perubahan peralatan jaringan
3.
Dapat
digunakan untuk mendiagnosa masalah-masalah dalam jaringan
4.
Sebagai
bahan untuk keperluan SLA (service level agreement)
5.
Mengetahui
kapan saat yang tepat untuk mengimplementasikan solusi disaster recovery system
(pemulihan bencana/masalah) dapat dilaksanakan
6.
Memastikan
keamanan sistem beroperasi dengan baik
7.
Memastikan pengguna (client) layanan dalam
jaringan terkoneksi dengan server yang mereka butuhkan
8.
Mendapatkan
infomasi status jaringan secara remote
9.
Memastikan
uptime untuk keperluan pengguna yang tergantung dengan ketersediaan jaringan
komputer
10.
Menghemat
pengeluaran dengan menekan jumlah waktu
jaringan down dan memangkas waktu untuk menganalisa masalah
Comments
Post a Comment